MUSTIKA BIRU MANIK PACAYAN SYECH SUNAN ROHMAT SUCI
(PRABU KIANSANTANG) ||Part-2
(CIAMIS, 22/09/2025). Mustika Manik Pacayan dari Syeh Sunan Rohmat Suci terbuat dari Blue sapphire. Safir biru atau blue sapphire adalah salah satu batu permata paling berharga di dunia, yang dikenal karena warnanya yang memukau dan kekerasannya yang luar biasa. Batu ini sering dikaitkan dengan kerajaan, kebijaksanaan, dan keberuntungan.
Mustika Manik Pacayan Syeh Sunan Rohmat Suci ini diperoleh melalui perjalanan spiritual Probo Trisna, bisa ditonton di chanel You Tube: Probo Trishna, UCK-cLkRWjOY2a05qw6-6_PA dan Running Misteri, UCYRgfIgLakjh0J1DcbUIGxA
Keberadaan Mustika Biru Manik Pacayan Syeh Sunan Rohmat Suci Tersebut sudah dimiliki Dr. Gumilar, S.Pd.,MM seorang kolektor benda antik.
Seperti gambar di bawah ini:

Prabu Kian Santang atau RadeSanggara ( sering dieja Radja Sangara) atau Syeh Sunan Rohmat Suci, adalah Putra Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja, Raja Pakuan Padjajaran dengan Nyi Subang Larang. Dia lahir pada 1427 M dengan nama Radja Sangara.
Tercatat Pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyi Subang Larang berputra 3 orang yaitu Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), Rara Santang (ibu Sunan Gunung Jati) dan Prabu Kian Santang.
Disebutkan oleh Ferry Taufiq El Jaquene dalam Hitam Putih Padjajaran bahwa Kian Santang yang bernama kecil Radja Sangara masuk Islam sejak kecil dan disebutkan dalam Api Sejarah 1 karya Ahmad Mansur Suryanegara bahwa Kian Santang turut serta meresmikan berdirinya Kadipaten Cirebon dibawah kekuasaan abangnya,Raden Walangsungsang dengan menyerahkan bendera kerajaan. Pada usia 22 tahun Prabu Kian Santang diangkat menjadi Dalem Bogor ke 2 yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Pajajaran tersebut, maka ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu, yang dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor
Disebutkan dalam Ensiklopedi Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia yang ditulis kementrian agama NKRI dia berdakwah mengajak raja raja Sunda pedalaman masuk Islam diantaranya Sunan Pancer,Raja Galuh Pakuan.
Dennys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya jilid 2 menyebutkan bahwa Kian Santang pernah menuntut Ilmu ke Makkah.
Dia menikah dengan Nyai Kalimah Sapujagad demikian menurut Purwaka Caruban Nagari karya Pangeran Arya Cirebon dan tidak ada catatan resmi siapa keturunannya sehingga hal itu menimbulkan perdebatan.
Kiansantang dan Rakeyan Sancang
Prabu Kiansantang inilah disebut-sebut tradisi masyarakat sebagai putra Raja Padjadjaran (Prabu Siliwangi) yang berselisih paham tentang keyakinan agama, tapi akhirnya mereka bersepakat Kian Santang diberi keleluasaan untuk menyebarkan agama Islam di seluruh wilayah Kerajaan. Padjadjaran, petilasan yang bertalian dengan Kian Santang berada di Godog Garut berupa makam, gunung Nagara berupa bekas pertahanan dan di Cilauteureun.***
